Dia tak akan pernah berhenti.,
berhenti melukai dirinya.,
berhrnti membuat dirinya semakin rapuh
ia tak pernah peduli dengan berbagai macam sakit yang ia derita, meski setiap petang ia harus berangkat ke sawah,dn maghrib baru bisa kembali.
aku tahu kadang kau lapar,tapi tetap ku bawa pulang makanan itu,kau berikan kepada kami.
aku tahu tubuhnu hancur saat itu,merasakan semua kesakitan yang kau tutupi. namun kau berpura pura kau sedang baik baik saja.
aku tahu disaat matamu tak mampu terangkat lagi, dan kau hampir terjatuh saat kantukmu kau sembunyikan. namun kau tetap bekerja demi sesuap nasi yang kau dapat dari hasil berjualan di pasar esok.
dan pagi pagi buta kau paksa mata indahmu terbuka. kau pergi kepasar dengan hanya berjalan kaki. walau aku paham jarak ke pasar terlalu jauh. dingin,sepi,ngantuk,takut,dan gelap. itu kan yang kau rasa?
sesampai dipasar kau khawatir akan tak lakunya daganganmu. tak cukuk diam,kau beranjak dari satu tempat ke tempat yang lain. namun tak kunjung mereka ramah kepadamu. kaki bawahmu sudah bertambah retak,aku tahu itu. tapi sampai mata hari berada tepat diatas kepalapun kau juga belum kembali. lalu aku melihat sosok ibu yang terlihat lelah dari arah jauh. tapi kau tetap tersenyum sembari membagikan makanan kesukaan kami,yang kau peroleh dari hasil jualan dipasar tadi. aku tahu terkadang kau sedang menangis memandangi kami. kau tak kunjung beristirahat, dengan sepiring nasi yang belum sepenuhnya kau habiskan,kau harus pergi ke sawah orang. walau kau sedang mengenakan baju sawahan,tapi kau tetap terlihat cantik ibu.....
aku tahu saat hampir semua tetangga mengusikmu,mem-bullymu,merendahkanmu,dan tidak menghargaimu. namun kau tetaplah ibu yang tegar. aku menangis&membenci mereka,tapi kau larang aku seperti itu. karna itu tiadalah guna, mereka akan tetap berada pada ego mereka.
kau bekerja di sawah orang,dan hasilnya kau tabung untuk ,masa depanku, masa depan adik dan kakak. tiap kali aku sedang bersamamu kau selalu tuturkan cita cita muliamu tentang aku. kau ingin kelak aku memakai baju warna hitam di sebuah ruang auditorium sebuah kampus,ya WISUDA. kau tak ingi aku memiliki nasib yang sama denganmu. kau ingin kelak aku menjadi seorang dosen. dan hanya dengan itu kau bisa membuktikan kepada mereka(yang selalu meremehkanmu) bahwa kau bisa...membuat aku besar. dan tentunya ingin melihatku menjadi seorang yang bermanfaat.
berhenti melukai dirinya.,
berhrnti membuat dirinya semakin rapuh
ia tak pernah peduli dengan berbagai macam sakit yang ia derita, meski setiap petang ia harus berangkat ke sawah,dn maghrib baru bisa kembali.
aku tahu kadang kau lapar,tapi tetap ku bawa pulang makanan itu,kau berikan kepada kami.
aku tahu tubuhnu hancur saat itu,merasakan semua kesakitan yang kau tutupi. namun kau berpura pura kau sedang baik baik saja.
aku tahu disaat matamu tak mampu terangkat lagi, dan kau hampir terjatuh saat kantukmu kau sembunyikan. namun kau tetap bekerja demi sesuap nasi yang kau dapat dari hasil berjualan di pasar esok.
dan pagi pagi buta kau paksa mata indahmu terbuka. kau pergi kepasar dengan hanya berjalan kaki. walau aku paham jarak ke pasar terlalu jauh. dingin,sepi,ngantuk,takut,dan gelap. itu kan yang kau rasa?
sesampai dipasar kau khawatir akan tak lakunya daganganmu. tak cukuk diam,kau beranjak dari satu tempat ke tempat yang lain. namun tak kunjung mereka ramah kepadamu. kaki bawahmu sudah bertambah retak,aku tahu itu. tapi sampai mata hari berada tepat diatas kepalapun kau juga belum kembali. lalu aku melihat sosok ibu yang terlihat lelah dari arah jauh. tapi kau tetap tersenyum sembari membagikan makanan kesukaan kami,yang kau peroleh dari hasil jualan dipasar tadi. aku tahu terkadang kau sedang menangis memandangi kami. kau tak kunjung beristirahat, dengan sepiring nasi yang belum sepenuhnya kau habiskan,kau harus pergi ke sawah orang. walau kau sedang mengenakan baju sawahan,tapi kau tetap terlihat cantik ibu.....
aku tahu saat hampir semua tetangga mengusikmu,mem-bullymu,merendahkanmu,dan tidak menghargaimu. namun kau tetaplah ibu yang tegar. aku menangis&membenci mereka,tapi kau larang aku seperti itu. karna itu tiadalah guna, mereka akan tetap berada pada ego mereka.
kau bekerja di sawah orang,dan hasilnya kau tabung untuk ,masa depanku, masa depan adik dan kakak. tiap kali aku sedang bersamamu kau selalu tuturkan cita cita muliamu tentang aku. kau ingin kelak aku memakai baju warna hitam di sebuah ruang auditorium sebuah kampus,ya WISUDA. kau tak ingi aku memiliki nasib yang sama denganmu. kau ingin kelak aku menjadi seorang dosen. dan hanya dengan itu kau bisa membuktikan kepada mereka(yang selalu meremehkanmu) bahwa kau bisa...membuat aku besar. dan tentunya ingin melihatku menjadi seorang yang bermanfaat.




