Rabu, 21 Mei 2014

Karena Hanya Do'a

Tak ada apa-apa
sepotong kain sutra, secuil keju, dan setetes air mineralpun
sungguh bergerakpun tak mampu ku kerjakan
dan hanya do'a yang aku bisa

iya, benar suara itu...
suara yang kerap menghentak batinku..
di ujung malam di perputaran bumi..
berisik nan menggebu..
 kenapa yang seperti itu benar?
kenapa hanya do'a yang bisa ku beri?

mungkinkah berhasil?
dengan hanya do'a?
karena hanya do'a yang menempel di jiwa
karena memang hanya do'a yang berbeda tapi sempurna..

karena hanya dengan do'a....
duri itu bisa kucabut dari relung batinmu, Mak..
duri yang kerap masuk tanpa ijin..
yang membuat kita saling salah posisi.

kan ku bawakan do'a terindah untukmu, Mak..
kan kupastikan do'a itu sampai..
sampai bersama tetesan air mataku..
semoga makhluk bersayap itu menjaganya..
menjaga sesuatu yang sering dia bilang do'a..

tahukah Emak??
do'a itulah yang selalu sembuhkan gilaku..
dia menjagaku dari kebodohan
untuk menyebutnya sebagai penjaga ingatanku tentangmu..

Karena Hanya Do'a.


Sabtu, 10 Mei 2014

Kikir--> Neraka , Dermawan-->Surga

suatu ketika saat nabi didatangi wanita yang cacat tangannya, Beliau dimintai tolong untuk berdo'a kepada Allah agar si wanita disembuhkan. lalu Rosululloh SAW menanyai si wanita "wahai wanita, gerangan apa yang terjadi sehingga tanganmu cacat?". si wanita bercerita, "suatu ketika, saat saya tidur saya bermimpi bertemu ibu saya di neraka, ia membawa daging di tangan kiri dan kain ditangan kanannya. lantas saya bertanya kenapa engkau ada disini wahai ibu? padahal dulu engkau taat beragama dan ayah meridhaimu. lalu si ibu menjawab dulu aku kikir dan hanya daging dan kain yang dulu pernah aku sodaqohkan dan ini di kembalikan ke saya untuk berlindung. lalu ayah dimana?
ibunyapun menjawab ayahmu sekarang ada di surga karena dulu ia adalah seorang yang dermawan.
lantas si anak tadi pergi ke surga mengunjungi ayahnya, ditemuinya ayahnya sedang membagikan air jernih (kautsar) di pinggir danau. si wanita tadi bertanya "wahai ayah, kenapa engkau tidak mengasihkan air ini kepada ibu? padahal ia sedang kehausan di neraka?" sang ayah menjawab "air ini bukan untuk orang kikir" lalu si anak tadi membawa air dengan tangannya yang akan diberikan kepada ibunya. tiba-tiba suara langit "semoga tanganmu menjadi cacat" si wanitapun bangun dari tidur dengan keadaan tangannya sudah cacat. lalu Rosululloh SAW meletakkan tongkat di tangannya dan berdo'a "ya Allah sembuhkanlah wanita ini dengan kehendakMu.

Jumat, 09 Mei 2014

JUM’AT 18 APRIL 2014

IBU JANGAN MENANGIS

Hari ini adalah hari dimana air mata telah mengubah segalanya. Ku kira hadirku kali ini akan memberi senyum di wajah mereka, kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi. Ternyata tidak demikian, mimik mukaku yang sebelumnya sangat ceria menunggu kedatangan sang ibu yang sampai maghrib belum pulang dari bekerja disawah, mendadak menjadi mimik yang penuh tanda Tanya. Ibuku menangis, hatiku semakin menjerit-jerit tak menentu. Ada apakah dengan ibuku??? Apa yang telah terjadi dengannya?? Apa yang ada dipikiranya sehingga beliau tak henti meneteskan airmata yang sangat berharga itu??
Ayah yang sedari tadi pulang lebih awal dari ibu, mendadak diam seribu bahasa. Tak ada sepatah katapun yang keluar diantara mereka berdua. Walaupun begitu, aku tahu bahwa sedang terjadi sesuatu yang tak beres diantara mereka berdua. Setelah selesai mandipun ibu semakin menangis menjadi-jadi dan merebahkan badanya di tempat tidur yang berbeda dengan ayah. Dua buah cangkir kopi selesai aku buat dan segera kuberikan kepada ayah dan ibu. Namun ibu, membentakku dan menyuruhku keluar. Didepan ibu, aku coba tenangkan dia, ku tahan air mata yang hampir menetes. Namun tetap ia diam tanpa memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Tak tahan menyaksikan ibuku menangis, aku keluar dan ya.. tak henti aku menangis. Dalam sesenggukan aku berdo’a kepada Sang Pemberi Cobaan. “ Ya Rabbi… betapa hamba tahu bahwa badan mereka hancur, seharian bahkan setiap hari bekerja keras… hamba tahu betapa sakit kulit mereka saat tersengat sinar matahari dan percikan padi… hamba tahu betapa letih kaki mereka setelah seharian berdiri dan menjadi tumpuan beban.. hamba tahu bagaimana mereka harus mengejar waktu, karna tuntutan kerja dari orang banyak. Namun apa yang bisa hamba berikan? Dulu ketika masih kecil, hamba bisa selalu berada disamping mereka, mencoba membantu tanpa khawatir kulit menghitam.. tapi sekarang untuk seperti itu, hamba tidak diperbolehkan lagi oleh mereka… lalu apa yang bisa hamba berikan? Tentu senyuman tak mampu menggantikan semua. Ya Rabb.. mungkin jalan satu2nya yang bisa hamba berikan kepada mereka adalah hamba menjadi baik. Hamba  sungguh berniat merubah diri hamba ya Allah… menjadi anak yang sholehah… karna hanya dengan itu, do’a2ku terhadap mereka akan engkau kabulkan… hamba ingin menjadi anak solehah, yang hamba bisa memohon kepadaMu supaya mengampuni dosa2 mereka.. sayangi mereka, dan lindungi mereka sepanjang waktu…. “
Kemudian aku beralih kepada ayah… beliau merintih kesakitan… setelah aku pastikan, ternyata punggung beliau memar2.. ada bintik2 nanah, gigi beliau juga sakit… astaghfirulloh… cobaan apa lagi ini.. tak cukupkah dengan rasa lelah yang teramat? Beliau tidak mau makan karna giginya tak henti memberi rasa sakit. Kucoba mengobati memar yang ada di punggung beliau, sesekali aku mengusap pipiku yang penuh dengan linangan air mata. Ketika diajak bicara, sungguh sulit menstabilkan suara supaya aku terdengar baik-baik saja.  sementara adikku, yang sedari tadi juga sesenggukan, sudah tertidur disamping ibu. Aku menghampiri ibu dan memijat kaki beliau. Walau pertama beliau tidak mau, tapi akhirnya beliau luluh.. ku raba kaki beliau… kaki yang selama ini memberi aku hidup, terasa dingin dan penuh luka. Kaki itu.., membuatku semakin mudah menitihkan air mata. Kaki itu.., surgaku kelak.
Hal Yang tersulit yaitu ketika terjadi salah paham diantara mereka. Sementara aku, harus membela yang mana, jika keduanya tidak bersalah? Harus lebih mengutamakan yang mana, jika mereka sama-sama merasa sakit??