Jumat, 09 Mei 2014

JUM’AT 18 APRIL 2014

IBU JANGAN MENANGIS

Hari ini adalah hari dimana air mata telah mengubah segalanya. Ku kira hadirku kali ini akan memberi senyum di wajah mereka, kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi. Ternyata tidak demikian, mimik mukaku yang sebelumnya sangat ceria menunggu kedatangan sang ibu yang sampai maghrib belum pulang dari bekerja disawah, mendadak menjadi mimik yang penuh tanda Tanya. Ibuku menangis, hatiku semakin menjerit-jerit tak menentu. Ada apakah dengan ibuku??? Apa yang telah terjadi dengannya?? Apa yang ada dipikiranya sehingga beliau tak henti meneteskan airmata yang sangat berharga itu??
Ayah yang sedari tadi pulang lebih awal dari ibu, mendadak diam seribu bahasa. Tak ada sepatah katapun yang keluar diantara mereka berdua. Walaupun begitu, aku tahu bahwa sedang terjadi sesuatu yang tak beres diantara mereka berdua. Setelah selesai mandipun ibu semakin menangis menjadi-jadi dan merebahkan badanya di tempat tidur yang berbeda dengan ayah. Dua buah cangkir kopi selesai aku buat dan segera kuberikan kepada ayah dan ibu. Namun ibu, membentakku dan menyuruhku keluar. Didepan ibu, aku coba tenangkan dia, ku tahan air mata yang hampir menetes. Namun tetap ia diam tanpa memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Tak tahan menyaksikan ibuku menangis, aku keluar dan ya.. tak henti aku menangis. Dalam sesenggukan aku berdo’a kepada Sang Pemberi Cobaan. “ Ya Rabbi… betapa hamba tahu bahwa badan mereka hancur, seharian bahkan setiap hari bekerja keras… hamba tahu betapa sakit kulit mereka saat tersengat sinar matahari dan percikan padi… hamba tahu betapa letih kaki mereka setelah seharian berdiri dan menjadi tumpuan beban.. hamba tahu bagaimana mereka harus mengejar waktu, karna tuntutan kerja dari orang banyak. Namun apa yang bisa hamba berikan? Dulu ketika masih kecil, hamba bisa selalu berada disamping mereka, mencoba membantu tanpa khawatir kulit menghitam.. tapi sekarang untuk seperti itu, hamba tidak diperbolehkan lagi oleh mereka… lalu apa yang bisa hamba berikan? Tentu senyuman tak mampu menggantikan semua. Ya Rabb.. mungkin jalan satu2nya yang bisa hamba berikan kepada mereka adalah hamba menjadi baik. Hamba  sungguh berniat merubah diri hamba ya Allah… menjadi anak yang sholehah… karna hanya dengan itu, do’a2ku terhadap mereka akan engkau kabulkan… hamba ingin menjadi anak solehah, yang hamba bisa memohon kepadaMu supaya mengampuni dosa2 mereka.. sayangi mereka, dan lindungi mereka sepanjang waktu…. “
Kemudian aku beralih kepada ayah… beliau merintih kesakitan… setelah aku pastikan, ternyata punggung beliau memar2.. ada bintik2 nanah, gigi beliau juga sakit… astaghfirulloh… cobaan apa lagi ini.. tak cukupkah dengan rasa lelah yang teramat? Beliau tidak mau makan karna giginya tak henti memberi rasa sakit. Kucoba mengobati memar yang ada di punggung beliau, sesekali aku mengusap pipiku yang penuh dengan linangan air mata. Ketika diajak bicara, sungguh sulit menstabilkan suara supaya aku terdengar baik-baik saja.  sementara adikku, yang sedari tadi juga sesenggukan, sudah tertidur disamping ibu. Aku menghampiri ibu dan memijat kaki beliau. Walau pertama beliau tidak mau, tapi akhirnya beliau luluh.. ku raba kaki beliau… kaki yang selama ini memberi aku hidup, terasa dingin dan penuh luka. Kaki itu.., membuatku semakin mudah menitihkan air mata. Kaki itu.., surgaku kelak.
Hal Yang tersulit yaitu ketika terjadi salah paham diantara mereka. Sementara aku, harus membela yang mana, jika keduanya tidak bersalah? Harus lebih mengutamakan yang mana, jika mereka sama-sama merasa sakit??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar