JUM’AT 18 APRIL 2014
IBU JANGAN MENANGIS
Hari ini adalah hari dimana air
mata telah mengubah segalanya. Ku kira hadirku kali ini akan memberi senyum di
wajah mereka, kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi. Ternyata tidak
demikian, mimik mukaku yang sebelumnya sangat ceria menunggu kedatangan sang
ibu yang sampai maghrib belum pulang dari bekerja disawah, mendadak menjadi mimik
yang penuh tanda Tanya. Ibuku menangis, hatiku semakin menjerit-jerit tak
menentu. Ada apakah dengan ibuku??? Apa yang telah terjadi dengannya?? Apa yang
ada dipikiranya sehingga beliau tak henti meneteskan airmata yang sangat
berharga itu??
Ayah yang sedari tadi pulang
lebih awal dari ibu, mendadak diam seribu bahasa. Tak ada sepatah katapun yang
keluar diantara mereka berdua. Walaupun begitu, aku tahu bahwa sedang terjadi
sesuatu yang tak beres diantara mereka berdua. Setelah selesai mandipun ibu
semakin menangis menjadi-jadi dan merebahkan badanya di tempat tidur yang
berbeda dengan ayah. Dua buah cangkir kopi selesai aku buat dan segera
kuberikan kepada ayah dan ibu. Namun ibu, membentakku dan menyuruhku keluar. Didepan
ibu, aku coba tenangkan dia, ku tahan air mata yang hampir menetes. Namun tetap
ia diam tanpa memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Tak tahan menyaksikan
ibuku menangis, aku keluar dan ya.. tak henti aku menangis. Dalam sesenggukan
aku berdo’a kepada Sang Pemberi Cobaan. “ Ya Rabbi… betapa hamba tahu bahwa
badan mereka hancur, seharian bahkan setiap hari bekerja keras… hamba tahu
betapa sakit kulit mereka saat tersengat sinar matahari dan percikan padi…
hamba tahu betapa letih kaki mereka setelah seharian berdiri dan menjadi
tumpuan beban.. hamba tahu bagaimana mereka harus mengejar waktu, karna
tuntutan kerja dari orang banyak. Namun apa yang bisa hamba berikan? Dulu
ketika masih kecil, hamba bisa selalu berada disamping mereka, mencoba membantu
tanpa khawatir kulit menghitam.. tapi sekarang untuk seperti itu, hamba tidak
diperbolehkan lagi oleh mereka… lalu apa yang bisa hamba berikan? Tentu
senyuman tak mampu menggantikan semua. Ya Rabb.. mungkin jalan satu2nya yang
bisa hamba berikan kepada mereka adalah hamba menjadi baik. Hamba sungguh berniat merubah diri hamba ya Allah…
menjadi anak yang sholehah… karna hanya dengan itu, do’a2ku terhadap mereka
akan engkau kabulkan… hamba ingin menjadi anak solehah, yang hamba bisa memohon
kepadaMu supaya mengampuni dosa2 mereka.. sayangi mereka, dan lindungi mereka
sepanjang waktu…. “
Kemudian aku beralih kepada ayah…
beliau merintih kesakitan… setelah aku pastikan, ternyata punggung beliau
memar2.. ada bintik2 nanah, gigi beliau juga sakit… astaghfirulloh… cobaan apa
lagi ini.. tak cukupkah dengan rasa lelah yang teramat? Beliau tidak mau makan
karna giginya tak henti memberi rasa sakit. Kucoba mengobati memar yang ada di
punggung beliau, sesekali aku mengusap pipiku yang penuh dengan linangan air
mata. Ketika diajak bicara, sungguh sulit menstabilkan suara supaya aku
terdengar baik-baik saja. sementara
adikku, yang sedari tadi juga sesenggukan, sudah tertidur disamping ibu. Aku
menghampiri ibu dan memijat kaki beliau. Walau pertama beliau tidak mau, tapi akhirnya
beliau luluh.. ku raba kaki beliau… kaki yang selama ini memberi aku hidup,
terasa dingin dan penuh luka. Kaki itu.., membuatku semakin mudah menitihkan
air mata. Kaki itu.., surgaku kelak.
Hal Yang tersulit yaitu ketika
terjadi salah paham diantara mereka. Sementara aku, harus membela yang mana,
jika keduanya tidak bersalah? Harus lebih mengutamakan yang mana, jika mereka
sama-sama merasa sakit??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar